Pada bulan Mei 1918, semua orang yang berada di dalam Gedung besar sedang duduk berkumpul, ada yang mengobrol satu sama lain, ada yang melihat sekeliling, ada juga yang sedang membaca untuk mengisi waktu luang menanti kedatangan Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum. Gubernur Jendral ini yang akan nantinya meresmikan sebuah perkumpulan dewan bentukan Hindia Belanda, Volksraad.
Salah satu diantara mereka ada seorang pria bertubuh dan wajah eropa yang sedang mengobrol dengan seorang Jawa yang mengenakan blankon. Diantara bagian sudut gedung itu yang kebanyakan berkumpulnya orang pribumi itu dialah yang cukup mencuri perhatian orang-orang eropa, tionghoa, dan arab lainnya karena mereka tahu budaya tak tertulis di Hindia Belanda."Orang Belanda tak boleh bergaul dengan Orang Pribumi." tetapi tidak untuk dia, sehingga salah satu memberanikan diri mendatangi dia.
" Wat je doet met de inlanders ? (Apa yang anda lakukan dengan penduduk pribumi ?)" kata si Belanda itu. Dia pun langsung berdiri dan berkata kepada orang itu
" Wat ik niet met elkaar kunnen spreken in dit gebouw ? (Apa saya tidak dapat berbicara satu sama lain di gedung ini ?). "
Orang Belanda itu pun membalas " Niet de meester, je bent een Nederlandse moet niet met ze praten, zijn ze andere klasse. (Bukan begitu tuan, anda seorang belanda tidak boleh bercakap dengan mereka, mereka dan anda berbeda kelas)."
Pria itu membalas " Dan maakt het niet uit ... moet blijf ik ons gesprek naadloos ? (Kalau begitu tak masalah...boleh saya melanjutkan perbincangan kami ?) "
Orang Belanda itu tampak kesal dan membuang muka. Setelah lama diam Lelaki Jawa itu bertanya kepada dia kenapa dia tidak berkumpul saja dengan orang Eropa lainnya. Dia pun mengatakan bahwa tidak masalah kamu Belanda atau bukan, itu tidak penting, yang penting adalah jika kamu bisa nyaman kalau kita bercakap, sah-sah saja adanya.
30 menit menunggu, Sang Gubernur Jendral menampakkan dirinya dari depan pintu besar tersebut dan semua anggota Volksraad mulai berdiri dan memberikan hormat kepada Sang Gubernur Jendral. Dia pun mulai memberikan sambutan dan mulai mendeskripsikan tugas-tugas Volksraad kedepannya. Setelah semua itu Dia lalu memerintahkan semua anggota duduk untuk membicarakan hal-hal yang ingin di perbincangkan di dalam Gedung itu, antara lain adalah masalah protes masyarakat Arab dan Tionghoa soal perpajakan yang memberatkan, pencuri rumah-rumah Orang penting yang bekerja untuk Hindia Belanda, dan lain sebagainya. Tapi tentunya ada juga pihak yang merasa dirugikan selama keputusan yang diumbarkan Gubernur Jendral memberatkan pihak pribumi, seperti pembatasan peredaran surat kabar milik Pribumi, peningkatan jam kerja Masyarakat pribumi baik di Pabrik maupun di Perkebunan, dan seterusnya yang makin membuat pihak pribumi gerah. Semua luapan protes dari anggota pihak pribumi terus berdengung keras tetapi seluruh pimpinan rapat (Termasuk didalamnya Gubernur Jendral) kelihatannya sengaja tak mengubrisnya.
Setelah selesai rapat, semua anggota keluar dan berbagai ekspresi setiap anggota terlihat beragam dari senang hingga kecewa berat. Salah satu yang kecewa berat itu ialah Pria mirip orang Eropa itu yang ternyata dirugikan, Dia adalah pemimpin perusahaan kertas berproduksi di Majalengka, Jawa Barat dan ingin membuka cabangnya di pinggiran Batavia, tetapi dia harus menerima kenyataan bahwa dia hanya boleh menjual hasil produksinya ke Surat Kabar milik Hindia Belanda / Tionghoa, pajak yang meninggi, serta separuh pekerjanya ada yang dipaksa di ambil pihak Hindia Belanda untuk kepentingan pembangunan jalan-jalan di Batavia dan sekitarnya. Sehabis dia keluar dari gedung, dia mencari taman untuk menenangkan pikirannya.
" Tuan Juragan ! Tuan Juragan! " Suara dari kejauhan mulai mengusik ketenangan pria itu
Dia melihat dengan seksama, " Marto ! kenapa kamu kesini ? Apa ada masalah ?"
Dengan terengah-engah Marto berkata kepadanya " Tuan Juragan,,, Selamat ! ahahahah (*langsung memeluk Tuannya meski masih lelah mencari)"
" Ada apa ini, Marto ? Aku bingung... " Pria tersebut keheranan.
" Maaf Tuan, tapi yang ingin saya sampaikan adalah... Tuan Juragan sudah punya anak ! anak, Tuan !" Jawab Marto.
Rasa terkejut dan senang mulai mengguyuri pikiran Pria itu yang tadinya sedang dalam kondisi pusing dan kecewa, dan terlintas di pikirannya untuk memberikan nama kepada anaknya.
Pria itu bertanya " Anakku laki-laki atau Perempuan, Marto ?"
Marto menjawab " Dia perempuan, Tuan. Perempuan yang cantik, Tuan"
Pria itu melihat kesekeliling taman, berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan nama. Dan dia melihat sekumpulan bunga melati tumbuh cantik disinari sinar matahari.
" Kau lihat bunga itu, Marto, aku akan memberi namanya Melati Matahari Andayana, Ya ! itu namanya."
Marto menjawab dengan senang " Bagus sekali Tuan !"
Sepertinya setiap kesulitan yang ada pasti Tuhan lihat. Dan dari kesulitan yang menerpa Pria itu, Tuhan memberinya harapan baru, yaitu seorang anak.